Senin, 10 Oktober 2022

Cerpen - Dilema Cinta Secangkir Kopi Robusta

source gambar

"Review buku dikumpulkan paling lambat dua hari lagi, ya"

"Baik, Pak," jawab kami serempak sesaat setelah  mata kuliah psikologi pendidikan selesai.

Aku mengembuskan napas panjang, cukup lelah dengan perkuliahan hari ini. Aku pun segera mengemasi buku-buku dan berharap bisa lekas merebahkan tubuh di tempat tidur kostan.  Tiba-tiba ponselku berdering, tanda notifikasi masuk. Kulihat, ada sebuah pesan dari seseorang. Sejenak senyumku mengembang, melihat siapa pengirim pesan tersebut

[Na, temenin Aku ngopi, yuk]

Seketika rasa lelahku luruh dan kembali bersemangat. Buru-buru kubalas agar si empunya pesan tak menunggu terlalu lama

[Oke, Ndra. Kamu ada dimana?]

Oh, akhirnya Aku bisa bertemu dengan dia lagi. Setelah hampir tiga bulan lamanya kita tak bertemu karena pandemi yang melanda kota, yang mengharuskan kita untuk tetap berada di rumah agar mata rantai penyebaran lekas teputus.

[Aku udah di depan fakultas, nih. Buruan Kamu turun]

Senyumku semakin mengembang, buru-buru Aku berlari untuk menuju tempatnya menungguku. Eh, tapi

[Ndra, Aku ke kamar mandi sebentar, ya, cuma lima menit, kok]

Balasku pada pesannya, dan Aku pun berlari menuju kamar mandi. Aku harus menunjukkan penampilan sebaik mungkin di hadapan Andra. Ya, lelaki yang kini tengah menungguku adalah Andra.

Setelah mencuci muka, kupoleskan sedikit make-up natural agar wajahku telihat segar. Mengoleskan liptint pada bibir tipisku agar senyumku semakin menawan, merapikan jilbab pashminaku, dan menyemprotkan parfum pada tubuhku.

Aku yang kini tengah mengenakan tunic coklat bergaris sepanjang bawah lutut, dipadukan dengan celana baggie pants warna mocca dan jilbab pashmina warna senada membuatku terlihat semakin manis, ah ... semoga Andra suka.

Dengan langkah pasti, Aku berjalan menghampiri Andra. Dan inilah yang kulihat, sesosok lelaki yang tengah bersandar pada dinding, tangan kanannya sibuk bermain ponsel, sedangkan tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku.

Sesosok lelaki dewasa yang sudah merebut hatiku sejak pertama kali Aku menginjakkan kaki di kampus ini. Lelaki yang tampan dan manis menurutku, dengan alis tebal dan sorot mata yang tajam telah menusuk hatiku sedalam-dalamnya. Hidung mancung dan lesung pipit yang menghiasi pipinya meski dia hanya berbicara. Suaranya yang renyah dan sifat ramahnya telah memantabkan hatiku.

"Ndra," panggilku akhirnya

Si empunya nama menoleh, dan kini dia tengah tersenyum lebar padaku, menampakkan barisan giginya yang rapi

"Hai, Na. Aku kangen banget sama Kamu," katanya

Jantungku berdegub semakin kencang tatkala dia berjalan mendekatiku, nafasku seakan tinggal sedikit saat menghirup parfumnya, dia begitu dekat denganku

"Aku juga, Ndra"

Akhirnya rinduku telah sampai padanya, suasana sore ini begitu sejuk, sesejuk suasana yang terjalin diantara kita. Angin yang membelai jilbabku seakan mengejek, hingga membuatku semakin gugup

"Yuk, naik motorku, Kita ngopi bareng,"

Tanpa ba-bi-bu dia menarik tanganku, membuatku sedikit kehilangan keseimbangan. Menyamakan langkahku dengan langkahnya yang panjang hampir membuatku terjatuh. Tapi Aku bahagia, amat  sangat bahagia.

"Kita ke cafe mana? atau Kamu mau makan dulu? biar Aku yang traktir," katanya lagi sambil memasangkan helm ke kepalaku

Aku tak sanggup berkata-kata, hanya mampu memandang sorot matanya yang memabukkan. Lagi-lagi Aku kehilangan kesadaranku

"Ki-kita ngopi aja, Ndra. Aku udah makan," jawabku terbata

"Yakin? nggak mau makan seblak dulu?" godanya sambil mencolek hidungku.

Ah ... sial, dia selalu paham apa kelemahanku. Tak dapat berbohong, aku pun tertawa karena ulahnya.

"Nggak, deh, kita ngopi aja, nanti, kan, sambil ngemil," jawabku akhirnya dengan pipi yang sudah sedikit merasakan kram karena tak berhenti tersenyum.

"Siap, Nainaku"

Iya, Aku adalah Naina. Naina paling bahagia saat ini. Aku pun menaiki motornya dan melingkarkan tanganku di pinggangnya.

Kota ku sore ini terlihat sangat indah, ditambah suasana hangat antara Aku dan Andra. Lampu-lampu jalan sudah mulai dinyalakan, sinarnya yang keemasan, menambah keromantisan yang ada.

Andra, andai Kamu tahu bahwa Aku sudah mencintaimu sejak lama. Tapi nyatanya, Aku hanya mampu menjadi pengagum rahasiamu. Kini kita dekat, sedekat ini. Aku berharap, tak ada jarak diantara kita. Jika saat ini Aku diberi kesempatan mengatakan cinta, maka akan kukatakan.

Setelah tiga puluh menit perjalanan, kami pun sampai. Setelah melepaskan helm yang terpasang di kepalaku, Andra menggenggam tanganku untuk memasuki cafe. Lagi-lagi Aku merasakan hangatnya tubuh Andra melalui tangannya. Tangan ini yang akan kugenggam selamanya.

Cafe bernuansa alam ini menyuguhkan suasana segar namun tetap terasa hangat. Sebuah cafe terbuka dengan bangku-bangku yang terpisah satu sama lain. Di tengah cafe, terdapat air mancur yang menambah nilai seni, hingga mata tak mampu berpaling saat melihat percikan airnya.

Lampu-lampu lampion juga terpasang di setiap sudut. Meski beralaskan rumput, cafe ini memang benar-benar terlihat menawan. Langkahku tertahan saat melihat sebuah lukisan kopi yang terpampang di dinding dekat pintu masuk cafe.

"Kamu suka?" tanya Andra

Aku hanya menganggukkan kepala kemudian menatap Andra. Andra hanya tersenyum dan merapatkan genggaman tangannya. Kami berjalan beriringan menuju bangku di sebelah kanan air mancur.

"Kok, milih duduk disini?" tanyaku seraya meletakkan tas di salah satu kursi

"Kamu suka main air di air mancur, kan?" jawabnya lagi-lagi menunjukkan kelemahanku

Aku hanya tertawa seraya memukul pelan lengan Andra, "Ya, kali Aku mau main air disini"

"Kenapa, nggak?"

"Ya, malu, lah," jawabku sambil menatap air mancur itu

"Ngapain malu, apa, sih, yang nggak buat Naina?"

Lagi-lagi Aku tersipu malu dan menutup mulutku, Ya Tuhan, apakah ini artinya Andra juga merasakan hal yang sama denganku?

"Oh, iya, kamu mau minum apa?" tanyanya sambil menyodorkan buku menu padaku

"Um ... apa ya? Nah, kopi robusta aja,"

"Baik, cemilannya apa?"

Kembali Aku melihat-lihat buku menu

"Pancake madu, deh," jawabku akhirnya

Andra pun berdiri dan berjalan ke meja barista untuk menyerahkan pesanan. Aku masih asyik memandang air mancur yang sedikit mencipratkan airnya kearahku.

"Kita lama, ya, Na, nggak ngopi bareng kayak gini," kata  Andra tiba-tiba begitu dia sampai di meja kami.

"Iya, udah tiga bulan lebih, loh,"

"Apalagi semenjak Aku kecelakaan, Aku trauma naik motor. Akhirnya, nggak ada yang boncengin kamu, deh, buat ngajakin ngopi,"

Empat bulan lalu, Andra mengalami kecelakaan yang cukup parah. Kecelakaan itu membuat kakinya retak dan tak dapat berjalan. Selama itu pula, Aku yang sering mengunjunginya di rumah sakit ataupun di rumah. Hampir semua anggota keluarganya pun sudah mengenalku, itulah sebabnya Aku selalu nyaman saat bersama Andra.

Pertemuanku dengan Andra, dimulai saat kami masih berstatus MABA (Mahasiswa Baru), saat itu Aku yang tengah terburu-buru karena takut terlambat, tiba-tiba terpeleset di depan kantor fakultas. Lantainya memang licin bekas hujan semalam, ketika Aku merintih kesakitan, tiba-tiba Andra datang, menggendongku dan membawaku keruang kesehatan.

Dari situlah Aku mengenal Andra, lelaki ramah dan amat sangat baik hati ini. Yang kini tengah duduk berhadapan denganku, yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Semenjak pertemuan itu, kita semakin sering bertemu meski kami beda fakultas. Aku fakultas pendidikan dan Andra fakultas ekonomi.

Selain itu, kami juga kerap bertemu di komunitas pecinta kopi di kampus. Setiap Hari Sabtu, kami akan berkumpul untuk mempromosikan produk kopi buatan komunitas, dan memasarkannya di area sekitar kampus atau di kota. Karena itulah Aku mencintai kopi robusta. Kopi ini juga yang mengingatkanku dan mendekatkanku dengan Andra, ya, kami sama-sama penyuka kopi robusta.

Karena kedekatan ini, banyak temanku atau Andra mengira bahwa Kami tengah berpacaran. Tapi kami hanya diam saja, Andra maupun Aku enggan menanggapi atau membahas hal itu. Mungkin belum saatnya, pikirku. Suatu saat nanti, jika memang Andra sudah mantab denganku, cepat atau lambat pasti akan dia sampaikan.

Hampir setiap hari, dia juga menjemputku dan mengantarku pulang ke kostan. Dia tahu bahwa Aku mahasiswa dari luar kota, maka dari itu, saat Aku ingin menikmati setiap sudut kota ini, dia selalu menjadi garda terdepan. Selalu bersedia jika ku mintai tolong untuk mengantarkanku meski sekedar membeli buku. Ah ... kau begitu sempurna di mataku, Ndra.

"Na, bagaimana kabar ibu dan ayahmu?" tanyanya setelah menyeruput kopi robusta yang dia pesan.

Karena kami sama-sama penyuka kopi dan penikmat senja, maka suasana kali ini benar-benar sangat pas.

"Alhamdulillah, baik, Ndra," jawabku

"Kamu selama pandemi menyebar kemarin, nggak kemana-mana, kan, Na?"

"Nggak, lah, Aku di kostan, aja,"

"Nggak bosan?"

"Ya, bosan, tapi mau gimana lagi? hahaha,"

"Andai saat itu Aku lekas pulih, akan kutemani kamu biar nggak kesepian," katanya sambil mengedipkan sebelah mata

Lagi-lagi Aku tersenyum, menatapnya dengan begitu manis.

Andra memulai pembicaraan, "Aku ada yang mau di omongin, nih,"

Jantungku berdegub kencang, akankah dia mengutarakan perasaan?

"Ma-mau ngomong apa?" tanyaku terbata

"Sebelumnya, Aku berterima kasih banget sama kamu, Na. Berkat kamu, Aku jadi semangat kuliah dan bantu-bantu usaha orangtuaku,"

"Kok, bisa Aku?"

"Iya, disaat Aku mulai malas kuliah, kamu selalu memarahi Aku, ngomel panjang lebar, dan kamu sering kasih motivasi-motivasi ke Aku,"

Kemudian dia berhenti sejenak, menyeruput kopinya dan berkata lagi,

"Sebelumnya, Aku nggak pernah bertemu perempuan sekuat kamu, setegar kamu, semandiri kamu, pertama kali bertemu kamu pun, Aku sudah paham kalau kamu perempuan hebat. Motivasiku selama kuliah ini adalah, Aku harus semangat, jika Naina yang cewek saja semangat, mengapa Aku nggak?"

Aku tertawa dan membenarkan semua ucapannya. Selama ini, Andra selalu mengutarakan apa yang menjadi kegundahan hatinya, disitulah Aku serta merta memberinya semangat dan motivasi kalau laki-laki harus hebat, laki-laki harus semangat.

"Aku bersyukur banget bisa mengenal kamu, Na," imbuhnya lagi

Ah ... Andai kamu memberiku kesempatan untuk berkata, sudah jauh-jauh hari kuutarakan rasa syukurku.

"Kamu perempuan dewasa, makanya Aku nggak ragu buat cerita apapun tentang diriku, termasuk apa yang akan kuceritakan ini,"

Aku yang sedang menyeruput kopi robustaku, sejenak tersedak. Sepertinya ini bukan hal biasa, ada apa sebenarnya?

"Ceritakan aja, Ndra. Ada apa sebenarnya?"

Dia menghela nafas panjang dan menatapku lekat, "Dua minggu lalu, saat pandemi dan kita harus dirumah saja, Ayahku mendapat telfon dari seseorang yang jauh. Aku tak tau pasti apa yang dibicarakan, tapi setelah ayah menerima telfon tersebut, ayah memanggilku," lagi-lagi dia menghela nafas panjang, menyeruput kopi dan berkata lagi,

"Ayah punya saudara jauh, di luar pulau jawa, nah, beliau mempunyai seorang putri yang seusia dengan kita,"

Jantungku berdegub semakin kencang, Aku merasakan firasat buruk

"Perempuan itu sedang sakit, sakit parah, Leukimia sepertinya, dan dia menyukaiku," ucapannya tertahan, Andra menunduk, seperti tengah merangkai kata agar tak sedikit pun melukaiku

"Aku juga tahu tentang perempuan itu, sekedar tahu, kita pernah bertemu di acara reuni keluarga tahun lalu. Tapi meskipun demikian, Aku dan dia sama sekali tak ada komunikasi,"

Andra menatapku, seperti sedang menerka-nerka apa yang tengah Aku pikirkan. Aku hanya bisa diam, menatap Andra dengan pikiran yang tak karuan

"Ayah perempuan itu, memohon-mohon pada Ayahku agar Aku dinikahkan dengan anaknya, kata beliau, mungkin dengan dia menikah denganku, harapannya untuk sembuh, bisa semakin besar,"

Bagai petir di siang hari, Aku terbelalak mendengar ucapan Andra. Nafasku seakan berhenti, Aku tak percaya, benar-benar tak percaya

"La-lalu?" tanyaku terbata, berusaha mengendalikan emosiku

"Aku sempat menolak, karena memang Aku tidak menyukai perempuan itu," Andra menatapku dan meraih tanganku

"Aku bilang pada Ayahku, bahwa Aku menyukaimu, Na. Sudah sejak lama bahkan,"

Air mataku jatuh sudah, luluh lantah menganak sungai tak terbendung. Aku sesenggukan, tak percaya pada takdir yang kini menghampiriku. Andra mengusap air mataku, dan menatapku pilu,

"Nainaku jangan menangis, Aku tak bisa jika harus melihatmu menangis," ucapnya dengan suara yang bergetar

Aku tak bisa berhenti, tangisanku semakin pecah dan terus membasahi pipi. Beberapa pengunjung cafe menatap kami, mungkin mereka berpikir jika kami adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Tapi nyatanya, kami belum menjadi kekasih tapi sudah akan terpisahkan.

"Tapi ayah tetap keukeuh dengan keputusannya, meski Aku sempat marah dan mengancam akan kabur dari rumah. Tapi akhirnya kuurungkan, lagi-lagi Aku mengingat nasehat Nainaku, bagaimanapun Aku harus patuh pada orangtua,"

"Jangan panggil Aku begitu, Ndra. Aku semakin terluka," ucapku sambil menatapnya

"Aku sudah menyadari sejak lama, bahwa sebenarnya Kamu menyukaiku,"

"Kenapa Kamu nggak bilang dari dulu, ha?" tanyaku dengan suara yang sudah meninggi

Andra menunduk, kemudian menatapku, "Aku sudah menikmati kedekatan ini, Na. Rencanaku, setelah kita lulus tahun depan, Aku akan langsung melamarmu,"

Aku menggeleng tak percaya, sebuah kabar baik namun semakin menyayat hatiku. Aku melepaskan tanganku dari genggaman Andra, memalingkan wajah agar telihat kuat

"Jadi, apa keputusanmu, Ndra?"

Andra menghela nafas panjang, " Aku tidak bisa melawan keinginan orangtuaku, meski sebenarnya Aku ingin,"

Air mataku meluruh lagi, Aku menutup mulutku untuk meredam sesenggukanku. Benar-benar tak percaya pada takdir yang menyapaku dengan sangat sempurna

"Naina, kamu jangan khawatir. Setelah Aku menikahi perempuan itu, Aku akan menceraikannya dan kembali padamu, percayalah ..."

"Tidak, Ndra," potongku sebelum Andra melanjutkan ucapannya

"Pernikahan tidak semudah dan sesederhana itu, pernikahan sebaiknya kamu lakukan sekali seumur hidup, jangan bermain-main dengan hal yang serius,"

"Tapi Aku tidak mencintainya, Na! Aku mencintaimu ... " ucap Andra seolah putus asa

Aku menggelengkan kepala, "Belajarlah mencintainya, Ndra. Jangan mainkan perasaan perempuan itu, apalagi kini dia tengah sakit, jadilah Kamu penawar terbaik untuknya, jadilah yang terbaik,"

Aku menatap Andra dan menggenggam tangannya, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Lelaki di depanku ini, benar-benar terluka, sorot matanya tak lagi secerah tadi saat kita menikmati sore. Raut wajahnya terlihat putus asa, menatapku seolah tak ingin kehilangan.

"Jangan kecewakan ayah dan ibu, kamu ingat nasehatku, kan?"

Andra mengangguk, kemudian menunduk, air matanya tengah jatuh namun berusaha dia sembunyikan dariku. Ku raih tangannya dan kudekap tubuhnya, ini benar-benar akan menjadi yang terakhir kalinya. Memeluk Andra di bawah temaram lampu lampion cafe robusta.

Iya, kopi robusta yang menjadi pengikat kami, terpaksa harus memisahkan kami pula. Dilema cinta yang tengah kami rasakan, membuat hati kami sama-sama terluka. Menyayat hati, membiarkannya terluka tanpa penawar yang pasti.

Andraku, jadilah yang terbaik. Jadilah imam yang membahagiakan istrimu kelak, jangan pernah kecewakan orangtuamu, sekali lagi, jangan. Aku, Naina Putri Bagaskara, akan selalu mendoakanmu, menguatkanmu, dan mendukungmu. Meski cinta kita harus terpisah dengan cara yang cukup tragis, tapi Aku bahagia bisa mengenalmu. Kuharap setelah ini, kamu lebih bahagia dibanding saat bersamaku, temukan bahagiamu, sungguh, jangan pernah kamu terlihat sedih di mataku.


Andra Laksana Pilangit, Aku sangat mencintaimu.

Lumajang, 2 Mei 2020

Cerpen - Dilema Cinta Secangkir Kopi Robusta

source gambar "Review buku dikumpulkan paling lambat dua hari lagi, ya" "Baik, Pak," jawab kami serempak sesaat setela...