"Review buku dikumpulkan paling lambat dua hari lagi, ya"
"Baik, Pak," jawab
kami serempak sesaat setelah mata kuliah
psikologi pendidikan selesai.
Aku
mengembuskan napas panjang, cukup lelah dengan perkuliahan hari ini. Aku
pun segera mengemasi buku-buku dan berharap bisa lekas merebahkan tubuh di
tempat tidur kostan. Tiba-tiba ponselku
berdering, tanda notifikasi masuk. Kulihat, ada sebuah pesan dari seseorang.
Sejenak senyumku mengembang, melihat siapa pengirim pesan tersebut
[Na, temenin Aku ngopi, yuk]
Seketika rasa lelahku
luruh dan kembali bersemangat. Buru-buru kubalas agar si empunya pesan tak
menunggu terlalu lama
[Oke, Ndra. Kamu ada dimana?]
Oh, akhirnya Aku bisa
bertemu dengan dia lagi. Setelah hampir tiga bulan lamanya kita tak bertemu karena
pandemi yang melanda kota, yang mengharuskan kita untuk tetap berada di rumah
agar mata rantai penyebaran lekas teputus.
[Aku udah di depan fakultas, nih. Buruan
Kamu turun]
Senyumku semakin
mengembang, buru-buru Aku berlari untuk menuju tempatnya menungguku. Eh, tapi
[Ndra, Aku ke kamar mandi sebentar, ya,
cuma lima menit, kok]
Balasku pada pesannya,
dan Aku pun berlari menuju kamar mandi. Aku harus menunjukkan penampilan sebaik
mungkin di hadapan Andra. Ya, lelaki yang kini tengah menungguku adalah Andra.
Setelah mencuci muka,
kupoleskan sedikit make-up natural agar wajahku telihat segar. Mengoleskan
liptint pada bibir tipisku agar senyumku semakin menawan, merapikan jilbab
pashminaku, dan menyemprotkan parfum pada tubuhku.
Aku yang kini tengah
mengenakan tunic coklat bergaris sepanjang bawah lutut, dipadukan dengan celana
baggie pants
warna mocca dan jilbab pashmina warna senada membuatku terlihat semakin manis,
ah ... semoga Andra suka.
Dengan langkah pasti,
Aku berjalan menghampiri Andra. Dan inilah yang kulihat, sesosok lelaki yang
tengah bersandar pada dinding, tangan kanannya sibuk bermain ponsel, sedangkan
tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku.
Sesosok lelaki dewasa
yang sudah merebut hatiku sejak pertama kali Aku menginjakkan kaki di kampus
ini. Lelaki yang tampan dan manis menurutku, dengan alis tebal dan sorot mata
yang tajam telah menusuk hatiku sedalam-dalamnya. Hidung mancung dan lesung
pipit yang menghiasi pipinya meski dia hanya berbicara. Suaranya yang renyah
dan sifat ramahnya telah memantabkan hatiku.
"Ndra," panggilku akhirnya
Si empunya nama
menoleh, dan kini dia tengah tersenyum lebar padaku, menampakkan barisan
giginya yang rapi
"Hai, Na. Aku kangen banget sama
Kamu," katanya
Jantungku
berdegub semakin kencang tatkala dia berjalan mendekatiku, nafasku seakan
tinggal sedikit saat menghirup parfumnya, dia begitu dekat denganku
"Aku juga, Ndra"
Akhirnya rinduku telah
sampai padanya, suasana sore ini begitu sejuk, sesejuk suasana yang terjalin
diantara kita. Angin yang membelai jilbabku
seakan mengejek, hingga membuatku
semakin gugup
"Yuk, naik motorku, Kita ngopi
bareng,"
Tanpa ba-bi-bu dia
menarik tanganku, membuatku sedikit kehilangan keseimbangan. Menyamakan
langkahku dengan langkahnya yang panjang hampir membuatku terjatuh. Tapi Aku
bahagia, amat sangat bahagia.
"Kita ke cafe mana? atau Kamu mau
makan dulu? biar Aku yang traktir," katanya lagi sambil memasangkan helm
ke kepalaku
Aku tak sanggup
berkata-kata, hanya mampu memandang sorot matanya yang memabukkan. Lagi-lagi
Aku kehilangan kesadaranku
"Ki-kita ngopi aja, Ndra. Aku udah
makan," jawabku terbata
"Yakin? nggak mau makan seblak
dulu?" godanya sambil mencolek hidungku.
Ah ... sial, dia selalu
paham apa kelemahanku. Tak dapat berbohong, aku pun tertawa karena ulahnya.
"Nggak, deh, kita ngopi
aja, nanti, kan, sambil ngemil," jawabku akhirnya dengan pipi yang sudah sedikit
merasakan kram karena tak berhenti tersenyum.
"Siap, Nainaku"
Iya, Aku adalah Naina.
Naina paling bahagia saat ini. Aku pun menaiki motornya dan melingkarkan
tanganku di pinggangnya.
Kota ku sore ini
terlihat sangat indah, ditambah suasana hangat antara Aku dan Andra.
Lampu-lampu jalan sudah mulai dinyalakan, sinarnya yang keemasan, menambah
keromantisan yang ada.
Andra, andai Kamu tahu
bahwa Aku sudah mencintaimu sejak lama. Tapi nyatanya, Aku hanya mampu menjadi
pengagum rahasiamu. Kini kita dekat, sedekat ini. Aku berharap, tak ada jarak
diantara kita. Jika saat ini Aku diberi kesempatan mengatakan cinta, maka akan
kukatakan.
Setelah tiga puluh
menit perjalanan, kami pun sampai. Setelah melepaskan helm yang terpasang di
kepalaku, Andra menggenggam tanganku untuk memasuki cafe. Lagi-lagi Aku
merasakan hangatnya tubuh Andra melalui tangannya. Tangan ini yang akan
kugenggam selamanya.
Cafe bernuansa alam ini
menyuguhkan suasana segar namun tetap terasa hangat. Sebuah cafe terbuka dengan
bangku-bangku yang terpisah satu sama lain. Di tengah cafe, terdapat air mancur
yang menambah nilai seni, hingga mata tak mampu berpaling saat melihat percikan
airnya.
Lampu-lampu lampion
juga terpasang di setiap sudut. Meski beralaskan rumput, cafe ini memang
benar-benar terlihat menawan. Langkahku tertahan saat melihat sebuah lukisan
kopi yang terpampang di dinding dekat pintu masuk cafe.
"Kamu suka?" tanya Andra
Aku hanya menganggukkan
kepala kemudian menatap Andra. Andra hanya tersenyum dan merapatkan genggaman
tangannya. Kami berjalan beriringan menuju bangku di sebelah kanan air mancur.
"Kok, milih duduk disini?"
tanyaku seraya meletakkan tas di salah satu kursi
"Kamu suka main air di air mancur,
kan?" jawabnya lagi-lagi menunjukkan kelemahanku
Aku hanya tertawa seraya memukul pelan
lengan Andra, "Ya, kali Aku mau main air disini"
"Kenapa, nggak?"
"Ya, malu, lah," jawabku
sambil menatap air mancur itu
"Ngapain malu, apa, sih, yang nggak
buat Naina?"
Lagi-lagi Aku tersipu
malu dan menutup mulutku, Ya Tuhan, apakah ini artinya Andra juga merasakan hal
yang sama denganku?
"Oh, iya, kamu mau minum apa?"
tanyanya sambil menyodorkan buku menu padaku
"Um ... apa ya? Nah, kopi robusta
aja,"
"Baik, cemilannya apa?"
Kembali Aku melihat-lihat buku menu
"Pancake madu, deh," jawabku
akhirnya
Andra pun berdiri dan
berjalan ke meja barista
untuk menyerahkan pesanan. Aku masih asyik memandang air mancur yang sedikit
mencipratkan airnya kearahku.
"Kita lama, ya, Na, nggak ngopi
bareng kayak gini," kata Andra
tiba-tiba begitu dia sampai di meja kami.
"Iya, udah tiga bulan lebih,
loh,"
"Apalagi semenjak Aku kecelakaan,
Aku trauma naik motor. Akhirnya, nggak ada yang boncengin kamu, deh, buat
ngajakin ngopi,"
Empat bulan lalu, Andra
mengalami kecelakaan yang cukup parah. Kecelakaan itu membuat kakinya retak dan
tak dapat berjalan. Selama itu pula, Aku yang sering mengunjunginya di rumah
sakit ataupun di rumah. Hampir semua anggota keluarganya pun sudah mengenalku,
itulah sebabnya Aku selalu nyaman saat bersama Andra.
Pertemuanku
dengan Andra, dimulai saat kami masih berstatus MABA (Mahasiswa Baru), saat itu
Aku yang tengah terburu-buru karena takut terlambat, tiba-tiba terpeleset di
depan kantor fakultas. Lantainya memang licin
bekas hujan semalam, ketika Aku merintih kesakitan, tiba-tiba Andra datang,
menggendongku dan membawaku keruang kesehatan.
Dari situlah Aku
mengenal Andra, lelaki ramah dan amat sangat baik hati ini. Yang kini tengah
duduk berhadapan denganku, yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Semenjak
pertemuan itu, kita semakin sering bertemu meski kami beda fakultas. Aku
fakultas pendidikan dan Andra fakultas ekonomi.
Selain
itu, kami juga kerap bertemu di komunitas pecinta kopi di kampus. Setiap Hari Sabtu,
kami akan berkumpul untuk mempromosikan produk kopi buatan komunitas, dan
memasarkannya di area sekitar kampus atau di kota. Karena itulah Aku mencintai
kopi robusta. Kopi ini juga yang mengingatkanku dan mendekatkanku dengan Andra,
ya, kami sama-sama penyuka kopi robusta.
Karena kedekatan ini,
banyak temanku atau Andra mengira bahwa Kami tengah berpacaran. Tapi kami hanya
diam saja, Andra maupun Aku enggan menanggapi atau membahas hal itu. Mungkin
belum saatnya, pikirku. Suatu saat nanti, jika memang Andra sudah mantab
denganku, cepat atau lambat pasti akan dia sampaikan.
Hampir setiap hari, dia
juga menjemputku dan mengantarku pulang ke kostan. Dia tahu bahwa Aku mahasiswa
dari luar kota, maka dari itu, saat Aku ingin menikmati setiap sudut kota ini,
dia selalu menjadi garda terdepan. Selalu bersedia jika ku mintai tolong untuk
mengantarkanku meski sekedar membeli buku. Ah ... kau begitu sempurna di
mataku, Ndra.
"Na, bagaimana kabar ibu dan
ayahmu?" tanyanya setelah
menyeruput kopi robusta yang dia pesan.
Karena kami sama-sama
penyuka kopi dan penikmat senja, maka suasana kali ini benar-benar sangat pas.
"Alhamdulillah, baik, Ndra,"
jawabku
"Kamu selama pandemi menyebar
kemarin, nggak kemana-mana, kan, Na?"
"Nggak, lah, Aku di kostan,
aja,"
"Nggak bosan?"
"Ya, bosan, tapi mau gimana lagi?
hahaha,"
"Andai saat itu Aku lekas pulih,
akan kutemani kamu biar nggak kesepian," katanya sambil mengedipkan
sebelah mata
Lagi-lagi Aku tersenyum, menatapnya
dengan begitu manis.
Andra memulai pembicaraan, "Aku ada
yang mau di omongin, nih,"
Jantungku berdegub kencang, akankah dia
mengutarakan perasaan?
"Ma-mau ngomong apa?" tanyaku
terbata
"Sebelumnya, Aku berterima kasih
banget sama kamu, Na. Berkat kamu, Aku jadi semangat kuliah dan bantu-bantu
usaha orangtuaku,"
"Kok, bisa Aku?"
"Iya, disaat Aku mulai
malas kuliah, kamu selalu memarahi Aku, ngomel panjang lebar, dan kamu sering
kasih motivasi-motivasi ke Aku,"
Kemudian dia berhenti sejenak,
menyeruput kopinya dan berkata lagi,
"Sebelumnya, Aku nggak
pernah bertemu perempuan sekuat kamu, setegar kamu, semandiri kamu, pertama kali
bertemu kamu pun, Aku sudah paham kalau kamu perempuan hebat. Motivasiku
selama kuliah ini adalah, Aku harus semangat, jika Naina yang cewek saja
semangat, mengapa Aku nggak?"
Aku tertawa dan
membenarkan semua ucapannya.
Selama ini, Andra selalu mengutarakan apa yang menjadi kegundahan hatinya,
disitulah Aku serta merta memberinya semangat dan motivasi kalau laki-laki
harus hebat, laki-laki harus semangat.
"Aku bersyukur banget bisa mengenal
kamu, Na," imbuhnya lagi
Ah ... Andai kamu
memberiku kesempatan untuk berkata, sudah jauh-jauh hari kuutarakan rasa
syukurku.
"Kamu perempuan dewasa, makanya Aku
nggak ragu buat cerita apapun tentang diriku, termasuk apa yang akan
kuceritakan ini,"
Aku yang sedang
menyeruput kopi robustaku, sejenak tersedak. Sepertinya ini bukan hal biasa,
ada apa sebenarnya?
"Ceritakan aja, Ndra. Ada apa
sebenarnya?"
Dia menghela nafas panjang dan menatapku
lekat, "Dua minggu lalu,
saat pandemi dan kita harus dirumah saja, Ayahku mendapat telfon dari seseorang
yang jauh. Aku tak tau pasti apa yang dibicarakan, tapi setelah ayah menerima
telfon tersebut, ayah memanggilku," lagi-lagi
dia menghela nafas panjang, menyeruput kopi dan berkata lagi,
"Ayah punya saudara jauh, di luar
pulau jawa, nah, beliau mempunyai seorang putri yang seusia dengan kita,"
Jantungku berdegub semakin kencang, Aku
merasakan firasat buruk
"Perempuan itu sedang sakit, sakit
parah, Leukimia sepertinya, dan dia menyukaiku," ucapannya tertahan,
Andra menunduk, seperti tengah merangkai kata agar tak sedikit pun melukaiku
"Aku juga tahu tentang perempuan
itu, sekedar tahu, kita pernah bertemu di acara reuni keluarga tahun lalu. Tapi
meskipun demikian, Aku dan dia sama sekali tak ada komunikasi,"
Andra menatapku,
seperti sedang menerka-nerka apa yang tengah Aku pikirkan. Aku hanya bisa diam,
menatap Andra dengan pikiran yang tak karuan
"Ayah perempuan itu, memohon-mohon
pada Ayahku agar Aku dinikahkan dengan anaknya, kata beliau, mungkin dengan dia
menikah denganku, harapannya untuk sembuh, bisa semakin besar,"
Bagai petir di siang
hari, Aku terbelalak mendengar ucapan Andra. Nafasku seakan berhenti, Aku tak
percaya, benar-benar tak percaya
"La-lalu?" tanyaku terbata,
berusaha mengendalikan emosiku
"Aku sempat menolak, karena memang
Aku tidak menyukai perempuan itu," Andra menatapku dan
meraih tanganku
"Aku bilang pada Ayahku, bahwa Aku
menyukaimu, Na. Sudah sejak lama bahkan,"
Air mataku jatuh sudah,
luluh lantah menganak sungai tak terbendung. Aku sesenggukan, tak percaya pada
takdir yang kini menghampiriku. Andra
mengusap air mataku, dan menatapku pilu,
"Nainaku jangan menangis, Aku tak
bisa jika harus melihatmu menangis," ucapnya dengan suara yang bergetar
Aku tak bisa berhenti,
tangisanku semakin pecah dan terus membasahi pipi. Beberapa pengunjung cafe menatap kami, mungkin
mereka berpikir jika kami adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Tapi
nyatanya, kami belum menjadi kekasih tapi sudah akan terpisahkan.
"Tapi ayah tetap keukeuh
dengan keputusannya, meski Aku sempat marah dan mengancam akan kabur dari rumah.
Tapi akhirnya kuurungkan, lagi-lagi Aku mengingat nasehat Nainaku, bagaimanapun
Aku harus patuh pada orangtua,"
"Jangan panggil Aku begitu, Ndra.
Aku semakin terluka," ucapku sambil
menatapnya
"Aku sudah menyadari sejak lama,
bahwa sebenarnya Kamu menyukaiku,"
"Kenapa Kamu nggak bilang dari
dulu, ha?" tanyaku dengan suara yang sudah meninggi
Andra menunduk, kemudian menatapku, "Aku sudah
menikmati kedekatan ini, Na. Rencanaku, setelah kita lulus tahun depan, Aku
akan langsung melamarmu,"
Aku menggeleng tak percaya, sebuah
kabar baik namun semakin menyayat hatiku. Aku melepaskan tanganku dari
genggaman Andra, memalingkan wajah agar telihat kuat
"Jadi, apa keputusanmu,
Ndra?"
Andra menghela nafas panjang,
" Aku tidak bisa melawan keinginan orangtuaku, meski sebenarnya Aku
ingin,"
Air mataku meluruh
lagi, Aku menutup mulutku untuk meredam sesenggukanku. Benar-benar tak percaya
pada takdir yang menyapaku dengan sangat sempurna
"Naina, kamu jangan
khawatir. Setelah Aku menikahi perempuan itu, Aku akan menceraikannya dan
kembali padamu, percayalah ..."
"Tidak, Ndra," potongku
sebelum Andra melanjutkan ucapannya
"Pernikahan tidak semudah dan
sesederhana itu, pernikahan sebaiknya kamu lakukan sekali seumur hidup, jangan
bermain-main dengan hal yang serius,"
"Tapi Aku tidak mencintainya, Na!
Aku mencintaimu ... " ucap Andra seolah putus asa
Aku menggelengkan kepala,
"Belajarlah mencintainya, Ndra. Jangan mainkan perasaan perempuan itu,
apalagi kini dia tengah sakit, jadilah Kamu penawar terbaik untuknya, jadilah yang
terbaik,"
Aku menatap Andra dan
menggenggam tangannya, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Lelaki di
depanku ini, benar-benar terluka, sorot matanya tak lagi secerah tadi saat kita
menikmati sore. Raut wajahnya terlihat putus asa, menatapku seolah tak ingin
kehilangan.
"Jangan kecewakan ayah dan ibu,
kamu ingat nasehatku, kan?"
Andra mengangguk,
kemudian menunduk, air matanya tengah jatuh namun berusaha dia sembunyikan
dariku. Ku raih tangannya dan kudekap tubuhnya, ini benar-benar akan menjadi
yang terakhir kalinya. Memeluk Andra di bawah temaram lampu lampion cafe
robusta.
Iya, kopi robusta yang
menjadi pengikat kami, terpaksa harus memisahkan kami pula. Dilema cinta yang
tengah kami rasakan, membuat hati kami sama-sama terluka. Menyayat hati,
membiarkannya terluka tanpa penawar yang pasti.
Andraku, jadilah yang
terbaik. Jadilah imam yang membahagiakan istrimu kelak, jangan pernah kecewakan
orangtuamu, sekali lagi, jangan. Aku, Naina Putri Bagaskara, akan selalu
mendoakanmu, menguatkanmu, dan mendukungmu. Meski cinta kita harus terpisah
dengan cara yang cukup tragis, tapi Aku bahagia bisa mengenalmu. Kuharap
setelah ini, kamu lebih bahagia dibanding saat bersamaku, temukan bahagiamu,
sungguh, jangan pernah kamu terlihat sedih di mataku.
Andra Laksana Pilangit, Aku sangat mencintaimu.
Lumajang, 2 Mei 2020
